My Answer

Selama ini aku selalu menghindar dari pertanyaan-pertanyaan “Kapan …”, “Gimana …”, “Kenapa …” atau semacam itu. Intinya semua pertanyaan yang menyangkut soal tugas akhir, sidang, dan kelulusan. Aku minta maaf kepada teman-teman sekalian yang sudah peduli (iya peduli kan? Atau akunya ae sing ke-GR-an?) dengan bertanya tapi takjawab dengan diam, dengan senyuman, dengan “Emmm…” panjang, atau dengan muka masam, bete, emosi tinggi, atau syukur lagi kalau takjawab dengan jawaban yang sama sekali nggak menjawab, seperti “Sidangku nunggu sidangnya si anu”, “TA-ku baik-baik saja” dan semacamnya. Kenapa aku bersikap begitu, nanti akan ada penjelasannya. Tapi lewat tulisan ini aku mau menjawab dengan jujur semua pertanyaan yang telah dilontarkan kepadaku. Kenapa lewat tulisan? Karena aku nggak pinter bercerita, kata pimen kalau aku cerita itu nggak ada klimaksnya, endingnya menggantung, begitulah haha. Tapi aku cukup percaya diri dengan tulisanku, aku merasa nyaman dengan menulis, jadi inilah jawabanku.

Tahun akademik 2011-2012

Sebelum memulai tahun akademik ini, sebagian besar kita pasti melewati kerja praktek. Dari kerja praktek ini, aku memutuskan untuk melanjutkannya jadi topik tugas akhir. Masuk semester 2, masa-masanya mahasiswa umumnya mulai mengerjakan TA,cari dosen pembimbing yang cocok, dsb, aku juga begitu. Mulai dari membuat proposal, lantas presentasi ke calon dosen pembimbing, bapak dosen setuju, mulai bimbingan, ngobrol-ngobrol, diskusi dengan dosen, diskusi dengan orang perusahaan di Surabaya tempat kerja praktek. Semua normal.

Progressnya memang lambat, karena masih taksambi kuliah juga, dan akune dewe bukan orang yang pandai multitasking. Dan targetku waktu itu adalah wisuda Oktober 2012. Dalam perjalanan waktu, akhirnya aku memutuskan menyisihkan dulu TA sampai beban sks habis semua. Yang berarti, TA ini nggak diutak-atik lagi sampai tahun akademik ini selesai. Done! Konsekuensinya, nggak lagi bimbingan, nggak lagi konsultasi dan diskusi dengan orang perusahaan, nggak lagi buka-buka literatur tentang TA.

Masuk liburan semesteran, pulang ke surabaya, memutuskan sudah waktunya untuk membuka kembali TA yang sudah digeletakkan. Dan mungkin sebagian besar dari kita tahu, kalau sudah berhenti, untuk memulai lagi itu rasanya beraaaaat sekali. Tapi ya sudah, pergi lagi ke perusahaan, ngobrol lagi dengan orang di sana lebih detail lebih mendalam soal sing dikarepke ini piye sebenarnya. Trus udah, aku melangkah ke babak berikutnya.

Tahun akademik 2012-2013

Kembali lagi ke Bandung, awalnya takut-takut dan penuh keraguan buat bimbingan lagi dengan dosen pembimbing, karena udah lama sekali nggak ketemu kan. Tapi ya sudah, akhirnya memberanikan diri menghadap beliaunya langsung, dan ternyata beliaunya justru lupa kalau aku ini mahasiswa bimbingannya. Jadi serasa kembali lagi jadi bimbingan pertama. Nggak apa-apa, dan yang jelas nggak lagi bisa wisuda oktober tahun ini. Lantas progress tercipta, ada kemajuan sedikit demi sedikit, mungkin sekitar 15%, lalu aku konsultasikan lagi dengan orang perusahaan di Surabaya, apa benar arah ini yang diinginkan. Ternyata bukan, lalu blablabla diskusi lewat email akhirnya disepakati kalau tujuan akhirnya adalah membuat B untuk perusahaan ybs (diskusi dari jalam KP yang aku tangkap, dan beliau –orang surabaya- setuju juga waktu itu adalah membuat A). Ya sudah, mulai lagi dari nol. Setelah ada progress lagi, aku konsultasikan dengan orang surabaya, ternyata bukan seperti itu yang diinginkan. Hal yang seperti ini berulang 3-4 kali, sehingga di tengah semester 1 tahun 2012-2013 itu kenyataannya aku belum dapet apa-apa. Aku frustrasi, ada perasaan males, pikiran-pikiran seperti susah sekali komunikasi, apa fungsinya selama ini, ya bisa dibayangkan bagaimana kalau pekerjaan kita bolak balik dicoret dan diganti tujuannya berkali-kali. Bingung, malas, capek, kesel, akhirnya aku geletakkan TA itu lagi. Sama sekali nggak aku urusi.

Di satu sisi, tema TA yang awalnya ada A, setelah berkali-kali diubah dalam diskusi dengan orang surabaya, akhirnya jadi E. Sementara dosen pembimbingku ini aku tahu bidangnya adalah A, kalau sekarang TA ku tentang E, berarti aku harus ganti dosen pembimbing. Waktu itu sudah kebayang repotnya ngurus ganti dosen, mulai lagi buat proposal, presentasi lagi, dan lain-lain, sementara di sisi lain sebagian di antara kalian sudah ada yang sidang, lulus, wisuda. Maka, aku tinggalkan TA-ku, nggak aku buka-buka lagi atau utak-atik lagi. Males. Capek.

Selama setahun. Penuh.

Hal terbaik yang aku lakukan adalah membaca buku soal E (tema TA hasil diskusi terakhir ini). Nyari software buat belajar cara makainya (nyarinya ini juga susah, pakai edisi terbaru ternyata nggak bisa, harus pakai keluaran lama). Setahun berlalu tanpa bimbingan dengan dosen, tanpa konsultasi dengan orang di Surabaya. Dan perjalanan “menghindar”ku dimulai. Pertanyaan-pertanyaan sudah mulai ditanyakan. Aku menghindar karena males cerita panjang lebar begini. Pada waktu itu, aku mikir seperti itu. Diajak teman-teman untuk mengerjakan TA bareng pun aku menolak, karena aku ini sebenarnya belum dapet apa-apa, masih nol. Nanti lihat TA teman malah semakin tertekan, jadi ya sudahlah.

Tahun akademik 2013-2014

Umroh. Sekembalinya dari umroh, meniatkan diri untuk MEMULAI mengerjakan TA lagi, tapi fail. Nggak bisa. Setiap kali mau membuka file-file TA, selalu ada perasaan tertekan, sehingga akhirnya aku memilih “lari” dari TA. Ke game, ke serial, ke film, ke browsing internet. Selalu seperti itu. Dan perasaan tertekan ini semakin hari semakin parah, setiap kali orang bertanya soal TA-ku, dan aku nggak bisa menjawab apa-apa, malah aku berbohong dengan bilang everything is fine blablabla, padahal setiap kali memikirkan soal TA aku merasa stres, pengen teriak kencang-kencang di suatu tempat sepi yang Cuma ada aku sendiri dan orang lain nggak bisa dengar teriakanku. I am such a mess at this point, the lowest point in my life.

Kembali lagi ke Bandung. Entah untuk apa, Cuma karena sudah males di rumah, sumpek ditekan terus (akan dijelaskan lebih lanjut nanti di bagian orang tua). Sama sekali nggak membantu, menghindarku semakin parah, rasanya jadi males untuk ketemu orang-orang, teman-teman, apalagi diajak ngobrol, maunya menyendiri saja, mengurung diri. Merasa semua orang sama saja, setiap perhatian (ya aku sadar kalian yang bertanya itu adalah wujud peduli dan perhatian ke aku) dirasa sebagai tekanan. Puncaknya, aku memutuskan buat konsultasi ke psikolog.

Konsultasi pertama dengan psikolog, aku yang sebelumnya nggak mau membuka diri ke siapapun, termasuk ke orang tua juga, “terpaksa” membuka diri ke psikolog. Ceria dari A-Z, semua yang aku tulis di sini. Diagnosis psikolog : aku ini terlalu banyak cemas. Khawatir pada hal-hal yang buruk yang belum tentu terjadi. Dan pada akhirnya energiku capek untuk memikirkan semua kecemasan dan kekhawatiran itu, dan nggak ada energi buat melangkah maju, mengecek apakah benar kalau kekhawatiranku itu akan terjadi pada akhirnya.

Bayangkan saja simpelnya begini, ketika aku mau ketemu dosen buat bimbingan lagi setelah sekian lama, yang terbayang pertama adalah “Pak Dosen pasti marah”. Dari ide itu, aku menyusun, dalam pikiran, percakapan yang mungkin terjadi dalam situasi beliau marah. Aku membayangkan beliau akan bertanya “kamu ke mana saja selama ini?”, “kamu sadar kamu sudah telat berapa lama?”, “sudah berapa lama ini kamu nggak ada kemajuan apa-apa, ngapain aja selama ini?”, semacam itu. Menarik kan ya sebenarnya, aku bisa membayangkan detail dari the worst possible scenario yang mungkin terjadi sampai ke dialog yang mungkin muncul. Kenapa aku begitu? Karena aku mikirnya, kalau aku bisa membayangkan itu, aku bisa mempersiapkan diri, mencari jawaban sebelumnya.

Bayangkan hal lain yang simpel juga. Ada yang ngajak aku buat makan bareng rame-rame. Hal pertama yang terlintas di pikiranku, “ah nanti pasti ditanyain TA ku bagaimana, mau sidang kapan, rencana wisuda kapan. Males.” Selalu situasi terburuk yang mungkin terjadi. Dan hanya dengan itu, aku sudah capek sendiri. Akhirnya ya aku menghindar, menolak diajak kumpul-kumpul. Kalau kalian bilang aku tampak tua, mungkin ya karena ini juga, rasanya sudah nggak bertenaga karena kebanyakan mikir yang aneh-aneh, yang jelek-jelek, padahal yang jelek itu belum tentu terjadi juga! Untuk kasus yang ketemu dosen itu misalnya, sebelum ketemu aku sudah mikir sejauh itu, lantas masuk ruangan beliau dengan deg-degan, tapi ternyata ketika ngobrol dengan beliau, beliaunya justru lupa. Dan nggak marah sama sekali! Semua pikiran-pikiran buruk itu nggak terjadi pada akhirnya.

Konsultasi kedua dengan psikolog, obrolannya soal relasi dengan teman-teman dan orang tua. Soal aku yang merasa tertekan ketika dihadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan dari kalian. Kata mbak psikolognya : bawa bercanda saja. Itu solusi yang paling mudah. Ambil jawaban simpel yang nggak mengharuskan kamu bohong atau menghindar tapi tetap memberikan kesan bercanda. Jangan diambil hati. Kalau ke orang tua, yang tersisa hanya tinggal jujur.

“Kalau saja Angga berani sedikit tegas ke diri sendiri dan mau menerima risiko, ini sebenarnya nggak rumit.”

Mungkin ada yang tanya, terus selama ini orang tuamu gimana El? Orang tuaku, ayah ibuku, nggak tau bagaimana aku sebenarnya setahun lebih belakangan ini. Dengan kata lain, bukan mereka yang tidak mau tahu, mereka peduli dengan bertanya kepadaku, tapi aku yang menjauh, berbohong, mengatakan hal-hal yang berlawanan denga kenyataan sebenarnya. Aku berbohong ke orang tuaku sendiri selama setahun lebih. Kenapa nggak cerita saja? Satu, aku nggak mau membebani mereka, karena ada beban pikiran lain yang sedang menyita tenaga mereka juga waktu itu. Dua, aku berbohong dengan harapan untuk mengulur waktu, “meminjam” waktu tambahan dengan tujuan dalam waktu tambahan ini aku bisa mengerjakan dan menyelesaikan TA-ku.

Aku bukan anak yang baik. Mau tahu kebohongan-kebohongan macam apa yang sudah aku berika ke orang tuaku? Rata-rata aku mengambinghitamkan pihak ketiga, mulai dari orang perusahaan di surabaya sampai dosen pembimbingku. The worst one? Sebelum aku berangkat umroh, aku bilang TA ku sudah selesai, sudah diapprove oleh dosen pembimbing, tapi belum bisa sidang karena dosenku harus ke luar negeri selama satu bulan. Itu semua hanya untuk “meminjam” waktu, jadi selama sebulan, aku aman. Aman dari pertanyaan orang tua, desakan, tekanan, dan semacamnya. Nyatanya, sebulan itu aku nggak berprogress apa-apa juga. Sampai waktu aku “ditekan” untuk segera kembali ke Bandung, ngurus sidang lah biar cepat beres semuanya (awal tahun akademik 2013-2014, setelah lebaran idul fitri tahun ini), dan aku ke Bandung.

Di Bandung pun, rasanya nggak ada dua hari berlalu tanpa pertanyaan-pertanyaan “Jadi kapan sidangnya?”, “Sudah diurus belum?”, dan sebagainya. Bohong lagi. Capek sebenarnya, tapi aku (mau) mikir jalan lain (ini sebelum ke psikolog). Sampai-sampai karena aku udah bosen ditanyai begitu, aku jawab saja sekenanya, udah dapat tanggal sidang tanggal 25 September (bulan lalu). Udah. Lalu ditanyai lagi “mau ditemani apa nggak pas sidang?”. Well ya, tentu saja, jawaban yang tersedia adalah “tidak”. Itu bohong terakhirku ke orang tua.

Lalu setelah konsultasi kedua dengan psikolog, aku mantap untuk menghadap orang tuaku dan ngomong terus terang, weekend sebelum tanggal 25 September itu. Dan voila, takdir itu bergerak dengan jalan yang tidak pernah diduga sebelumnya. Aku mengabari orang tua yang waktu ada di jogja aku mau ke sana (nggak bilang lebih dari ini), lalu orang tua menganggap aku stres sebelum sidang, mau jalan-jalan sebentar dan semacamnya. Aku nggak bilang lewat telepon apa tujuanku sebenarnya, karena aku mau ngomongnya secara langsung, supaya nggak ada salah tangkap informasi atau apalah. Aku berangkat sabtu pagi, balik bandung minggu malam naik kereta. Jumat siang aku beritahu orang tua, dan jumat sore orang tua bilang ke aku, nanti baliknya nggak jadi minggu aja, balik bandung hari senin aja sama ibu. Ibu sebenarnya sudah rencana surprise ke kamu nemenin kamu pas sidang (setelah aku mati-matian menolak buat ditemani sebelumnya) sudah beli tiket pesawat senin pagi, dan ini sudah dipesankan satu tiket pesawat lagi buat kamu juga balik ke bandung bareng ibu. Sampai di sini, mungkin ada yang bisa membayangkan bagaimana reaksiku mendengar ini semua? Mau nggak mau memang pas bener momennya aku harus ke sana untuk meluruskan segala sesuatunya pada saat itu, tidak ada saat yang lebih baik, tidak bisa ditunda lagi.

Yang jelas, di perjalanan ke jogja itu, penyakitku kumat. Mulai membayangkan betapa marahnya ayah dan ibu begitu tahu selama ini aku sudah bohong, membayangkan ayah akan marah besar dan kalimat-kalimat yang akan keluar darinya “Kamu selama ini nganggur aja di Bandung?”, “Jauh-jauh ke sana Cuma buat main-main aja?”, “Kenapa nggak bilang dari awal-awal?” semacam itulah. Ini seperti nggak bisa dikontrol, sekali mulai berpikir jelek berikutnya pasti terbawa terus, membayangkan detail-detailnya, konsekuensi berikutnya (Btw, aku pernah membayangkan pengen cepat mati, membayangkan aku ndang mati kenek kecelakaaan di kereta itu atau kena sakit parah begitu sebelumnya biar mati, just for the sake to walk away from any of this, tapi terus aku baca kalau manusia itu nggak boleh berharap mati, sesusah apapun kondisinya, apalagi berdoa minta dimatikan). Tapi ya sudah, sudah telanjur, dan inget lagi kata psikolog, harus berani tegas dan mau ngambil risiko.

Lalu malam setelah sampai jogja aku ngomong ke ayah ibu yang sebenarnya. Dari A-Z, sama seperti yang aku tulis di sini, termasuk soal konsultasi ke psikolog, apa kata psikolognya, dan kebohongan-kebohongan selama ini. Dan sekali lagi, sekali lagi, apa yang aku bayangkan sebelumnya sama sekali nggak terjadi. Ayah dan ibuku nggak marah sama sekali, dan selebihnya, aku copy dari emailku ke psikolog:

“Ayah dan ibu cukup prihatin dan sedih yang pasti, dan masih bertanya “mengapa tidak bilang sejak dulu-dulu?” tapi di luar itu ayah dan ibu sama sekali tidak marah, malah mendorong saya untuk move on dan mengumpulkan semangat untuk ke depannya. Terutama ayah yang paling banyak memberikan nasihat yang intinya tidak usah memikirkan yang sudah lalu, cukup diambil saja sebagai pelajaran untuk masa depan, dan memberikan banyak opsi solusi untuk saya”

Aku mbrebes mili ketika mendengar kata-kata orang tuaku. Momen itu aku merasa, aku punya orang tua terbaik di seluruh dunia. Sama sekali nggak ada kata kecewa atau marah atau emosi. Sudah, lalu, karena aku mulai capek nulis ini, aku copy lagi dari emailku ke psikolog:

“Lalu ibu saya akhirnya berangkat ke bandung bersama saya untuk menemui dosen saya senin kemarin. Solusi yang disepakati oleh orang tua saya adalah ibu saya tetap berangkat ke bandung dan menemani saya untuk cerita ke dosen saya. Dan senin siang kemarin saya dan ibu menemui dosen saya, sewaktu berangkat saya masih ada rasa sungkan, segan, takut begitu untuk menghadap beliau karena, sekali lagi, sudah membayangkan yang buruk-buruk. Tapi ya saya tetap jalan saja menghadap beliau, dan sampai di ruangan beliau, ibu saya cerita semua dan dosen saya ternyata sangat pengertian sekali, beliau bilang yang seperti ini biasa terjadi, dan beliau juga senang karena yang seperti ini bisa berakhir karena ada kesadaran dari saya sendiri untuk maju (walaupun sebenarnya karena memang sudah kepepet mau tidak mau saya merasa harus jujur mbak), dan sama sekali nggak marah atau apa, justru lupa karena sudah lama nggak ketemu. Dosen saya pun dengan senang hati menerima saya untuk bimbingan lagi.”

Silly me, bahkan dosenku bercanda ke ibuku “Putranya cukup dimarahi sehari aja ya Bu, jangan lama-lama dimarahinya, biar cepat fokus dan kembali lagi ke TA-nya”, sementara sebenarnya ibuku juga nggak marah sama sekali.

Well, beginilah ceritaku, jawabanku buat kalian. Aku sekarang mulai dari nol lagi. Balik ke surabaya kemarin memang nemenin ibu di surabaya pas idul adha sekaligus ke perusahaan untuk konsultasi lagi dan mulai lagi dari nol (Lucunya, lagi-lagi pikiran buruk muncul, seperti kalau bapaknya (perusahaan) marah bagaimana, kalau bapaknya ternyata sudah pindah kerja, atau kenapa-kenapa lainnya, dan sekali lagi pikiran-pikiran seperti ini nggak terjadi). Aku sudah kembali ke nol dengan ayah ibuku, aku mau kembali ke nol dengan kalian juga, sekarang kalian tahu ceritaku, tahu kondisiku yang suka cemas dan khawatir yang tidak-tidak jadi kelihatan tua, kembali ke nol dengan dosen pembimbing, kembali ke nol dengan orang perusahaan di surabaya, no more lies no more denial no more avoiding question (hopefully).

Aku bukan rodjo yang baik, yang bisa ngasih teladan ke kalian. Sepurane rek, untuk kalian yang mungkin kesel ke aku gara-gara aku sering menghindar tanpa alasan, nggak menjawab pertanyaan atau apa. Utamanya Kalpin yang, aku tahu sebenarnya kamu peduli ke aku, tapi pertanyaanmu nggak pernah sekalipun ada yang takjawab dengan jelas haha, Pimen yang setelah aku bilang aku nggak bisa oktober nggak malah bertanya kenapa tapi malah menyemangati (suwun sing akeh man, aku bener-bener nggak nyangka responmu itu), Leits yang sabar tapi keras kepala haha, Ragil dan Aisha yang sabaaaaar sekali, masih tetap peduli dan perhatian dan tanya-tanya ke aku tapi akunya cuek haha (maaf ya gil, aku nggak bermaksud apa-apa waktu kamu tanya “Kapan” kemarin pas kita ke sabuga mau ketemu pimen sama kodir) dan juga teman-teman lainnya yang merelakan waktunya buat sekedar tanya ke aku, suwun dan sepurane sing akeh rek.

Last, Imania. Koen iku mbuencekno puol, muangkelno abis, dan super kekanak-kanakan. Kita sama-sama broke im di satu momen, sama-sama gak ngerti kudu lapo, sama-sama mbambung, sama-sama suka run away from reality. Tapi kamu sudah punya abangmu yang bisa menuntunmu, dan aku punya orang tuaku yang masih percaya padaku setelah semua ini, jadi nggak ada alasan untuk stay di season ini. Sudah waktunya masuk ke season baru. Buat teman-teman lain mungkin season baru dimulai dengan pekerjaan baru, ganti status baru, atau semacamnya, buatku season baru adalah momen ini.

Aku nggak sedih rek, aku sudah menemukan kembali semangatku untuk menyelesaikan apa yang aku mulai 5 tahun lalu. Nyuwun dungane wae supaya aku bisa menjaga semangat ini sampai semua benar-benar selesai. Suwun juga untuk kalian yang sudah ke Bandung weekend ini, sukses buat kita semua. Dan sekali lagi maaf kalau aku sudah ngeselin kalian selama ini.

Oh ya, kenapa aku menghindar, kenapa nggak cerita yang sebenarnya aja ke kalian? Baru belakangan ini aku berpikir begini. Kalau sebenarnya justru aku yang nggak mau dan nggak kepengen kalian tahu ini semua karena… ini aibku. ini kebobrokanku. Selama ini aku terbiasa dengan segala keberhasilan dekat denganku, tapi iki termasuk kegagalanku. Dan ketika psikolog tanya, “Memang kenapa sih kalau teman-teman tahu gimana kondisi Angga yang sebenarnya?” waktu itu aku nggak bisa menjawab. Tapi sekarang aku bisa. Karena itu tadi, aku nggak mau kalian tahu kegagalanku, aibku. Aku sadar selama ini aku sendiri belum bisa menerima diriku secara penuh, cuma mau mengakui kalau aku sukses atau berhasil, dan memilih lari atau menghindar jika mendapati kegagalan. Dan dengan tulisan ini aku belajar untuk menerima semua itu sebagai bagian dari diriku.

Btw, Gil, game berhitung kemarin, senggaknya lumayan bisa membuatku pede lagi. At least masih ada sisa kecerdasan di dalam diriku. Suwun yo gawe kalian sing wis ngalah buat aku, ben aku entuk posisi pertama 🙂

Salam cinta,

Erlangga Budi Pradipta

yang numpang wordpressnya leits buat ngepos tulisan ini karena kalau pakai tumblr terlalu banyak orang yang luar yang akan baca.

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s